Tuesday, May 17, 2016

Semua kembali ke Kontrak Awal

(Catatan kecil saya dari sebuah pengajian) 

Kata Pak Ustadz...
Setiap ibu memiliki kontrak awal dengan Tuhan: mendidik dan membesarkan putra putrinya. Dan, mereka, setiap ibu, akan dimintai pertanggungjawaban sesuai kontrak awalnya tersebut. 

Bagaimana jika ia seorang wanita karir, lalu tugas itu "didelegasikan" kepada orang lain, misalnya kepada baby sitter? Jawabnya, tetap sang ibulah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan baby sitternya. Jadi macam ada 2 kontrak:
(1) kontrak antara ia dan baby sitternya; dan
(2) kontrak antara ia dan Tuhannya. 
Jika paham kontraknya,maka jelas juga aturan mainnya, termasuk apa dan pada siapa pertanggungjawabannya.

Boleh gunakan analogi ini: 
menjaga dan merawat kebun adalah tugas tukang kebun sesuai kontrak pekerjaan yang disepakatinya dengan majikan. Jika si tukang kebun meminta tolong kepada temannya untuk membantu mengurus taman, sang majikan tidak akan meminta pertanggungjawaban kepada teman tukang kebun. Tetapi, sang majikan tetaplah akan meminta pertanggungjawaban kepada si tukang kebun. 
Jika kebunnya bagus, maka sang majikan akan senang dan mungkin akan memberinya insentif untuk meningkatkan kinerjanya. Sementara itu, si tukang kebun paham betul siapa yang telah berkontribusi pada pencapainnya itu. Karenanya, ia (tukang kebun) selayaknya berterima kasih dan menghargai teman yang telah membantunya tersebut.

#hatihatibacanya
#udahgituaja

Saturday, April 02, 2016

HAPPY MARCH



Catatan 14 Maret 2016...

Meski beberapa insiden kecil menyertai, Alhamdulillah Seminar hasil hari itu berjalan lancar juga.

Sunday, February 14, 2016

PESTA MEWAH BUAT "KITTY"


"Kitty" itu pemanis judul aja :)

Hari itu saya sedang duduk menunggu dosen. Ditemani Bibi "pengendali dapur". Sebut saja begitu. Sambil ngobrol berdua, di depan kami tiba2 muncul seekor anak kucing yang tampak liar dengan tubuhnya yang sangat kurus. Saya ngomong ke Bibi, "Bi, ada sisa2 makanan ga Bi?". Bibi menjawab,"Ga ada neng, paling juga siangan klo ada yg mesen makanan dari luar". Saya paham jawaban Bibi, karena dapur yang ia jaga hanya semacam dapur praktis, hanya utk sajian2 tertentu spt teh dan kopi. Si Kucing terus saja mengeong dengan kalapnya mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Tak lama berselang, seorang mahasiswi datang menghampiri kami dan menyapa Bibi. Ia tak ikut duduk. Ia menghampiri si Kucing dan mengeluarkan Whiskas (makanan kucing kemasan) dari tas ranselnya. Saya ingat reaksi si Kucing yang mengeong makin nyaring sebelum memulai pesta kecilnya yang mewah. Hingga ia kenyang, si mahasiswi itu nampak menemaninya, mengajaknya berbicara, penuh kasih sayang. Pemandangan itu benar2 mengharukanku.
Bahwa, masih sangat sedikit orang yang tergerak hatinya melakukan hal-hal istimewa semacam itu. Memberi ikan yang tersisa dari piring kita, itupun mungkin tulangnya aja. Kenapa tak berfikir memberi isi atau dagingnya? Apa yg dilakukan mahasiswi muda itu, sungguh adalah pengalaman dan pelajaran yang mengagumkan bagi aku pribadi, dari seseorang yang tak saya kenal dan usianya jauh di bawah saya.

Tuesday, December 22, 2015

BISIKAN HATI

 

Seperti itu gambaran saya dan Mama dulu. Sambil diiringi petikan gitarku, Mama nampak begitu menikmati meniti setiap nada. Mama suka banget sama lagu-lagu Melayu, Keroncong dan tentu saja lagu daerah Mandar. Wattu Timor Di Pamboang atau O Pulau Karampuang sering jadi lagu pembuka saat kami duduk bersenandung di teras depan atau di kamar belakang dekat dapur. 

Kini, semua itu hanya bisa saya kenang. Karena apapun yang kemarin, bagi siapapun, selalu akan jadi seperti itu. Jadi, tak lagi harus bersedih ketika mengenang. Dan karena saya yakin, Mama selalu ada menemani langkahku, menggenggam tanganku, serta membelai tidurku. Mama lebih tahu, bagaimana mendekap putrinya dari ruang dimensi yang berbeda.
  
Untuk MAMA,

dan untuk Ibu-ibu hebat lainnya, 

SLAMAT HARI IBU.

Tuesday, December 01, 2015

BELAJAR BERTAHAN


Dikoreksi, dibongkar, lalu direvisi lagi. Begitu saja terus berulang-ulang. Kadang sampai jadi candaan, nunggu siapa duluan, kita yang lelah atau supervisor yang bosan melihat wajah kita. Hahha. Teringat saat masih awal dulu, pernah sekali menghadap supervisor. Menyodorkan draft yang dibuat berbulan-bulan. Saat beliau mengatakan itu blm apa2, substansinya tak kena, saya drop 3 bulan. Benar2 tak bisa berfikir. Rasanya spt masuk dalam terowongan gelap sangat. Setelah akhirnya bisa keluar dan mulai bisa membuka alam fikir lagi, tiba2 spt tersadar ada waktu yang terbuang. Sy berusaha utk tak menyesali, sebab telah sy paksakan pun, mmg tak bisa. Teman yang lain, menempuh lorong gelapnya bahkan hingga hampir 2 tahun. Ternyata, kejadian itu berulang lagi dan lagi. Tp lama2 terbiasa juga. Belajar memenej pertahanan diri selama proses ini menjadi hal yang utama. Jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi. Babak belur sdh tak peduli, yg penting bisa berdiri dan melangkah sdh bersyukur banget. Soal pasang target kapan selesainya, inipun sudah beberapa kali revisi. Kita tunggu saja...selesai tepat waktu atau selesai di waktu yang tepat. :D

Maunya segera ya Allah...Aamiin.  (Doain ya...)

Monday, November 02, 2015

SENIN ISTIMEWA




Judul postingan kali ini "Senin Istimewa". Banyak momen istimewa yang kudapati hari ini. Dari mulai konsultasi yang berujung lampu hijau dari Supervisor untuk lanjut ke tahap berikutnya, nganterin jurnal yang udah publish ke mereka, obrolan kecil dan doa yang manis dari seberang, hingga barusan...dianterin bakso bangka surprise depan pintu *senyumlebar*. Ah rejeki mah ga kemana. 

Hari ini juga rasanya lebih fresh ngetik. Alhamdulillah laptopku sudah stabil lagi setelah kemarin sebulan lebih 'sakit', sering restart tiba-tiba gitu. Kebayang, pas lagi dibutuhin di momen2 akhir begini, dianya ngadat. Benar-benar pengen nangis rasanya, setiap pas selesai ngetik ide dan belum sempat disave, tiba-tiba restart seenaknya. Stelah stabil gini, pengalaman ngerjain tulisan dalam kondisi laptop sakit, malah jadi kenangan yang melekat banget di memory, justru karena nilai juangnya terasa lebih kuat dan habis-habisan menguji kesabaran saya.

Btw, malam ini semangat gegap gempita pengen begadang ngolah data kawan. Bantu teman seperti jadi hobby baru. Gara-garanya pernah menghadapi kesulitan dan hampir nggak tau mau minta tolong ke siapa. Lalu saya pernah pula membaca tulisan ini di salah satu medsos: "Menolong orang lain tak butuh alasan". Bagiku sih alasan tetap ada, Lillahi Ta'ala. Ya iyalah. Maksud sy bukan ingin mematahkan kalimat itu. Saya tetap sepakat pesan intinya "menolong dengan tulus". Sebab yang lainnya, sy merasakan benar beberapa pekan terakhir banyak hal yang saya alami, entah itu pengalaman dari saya, maupun dari teman. 

Pernah saya ingin minta tolong ke seseorang, namun terkendala karena dianya sibuk. Saya kebingungan harus ke siapa lagi. Sambil duduk mikir gitu, kemudian saya curhat ke seseorang yang lain, yang justru benar-benar di luar ekspektasi saya bakal bisa ngebantuin nyari jalan keluar. Eh malah ternyata dia yang bisa membantu mencarikan solusi yang saya butuhkan. Saya menyebutnya, itu jalan-jalan rahasia yang dibuka Tuhan. Wallahu a'lam. Maha Suci Allah yang selalu menuntun dan membolak-balikkan hati kita.

Rumus sederhananya kira-kira begini:

"Jika ingin Tuhan membuka jalan keluar rahasianya untuk kita, 
bukalah jalan keluar sebanyak-banyaknya bagi orang lain,
semampu yang kita bisa,
 dan tulus."

Thursday, October 15, 2015

Pesan Hati

Dear, 
yg Tuhan restu.

Di antara spasi disertasi,
kuselip sepucuk pesan hati.

Tak ada perayaan atau apapun,
tambahan angka di usia kita,
akan selalu berbanding terbalik dengan sisa umur kehidupan kita.

Bersyukur dan tetap istiqomah,
tak hanya untukmu,
tapi bagiku juga
dan untuk semua.

Ada yang indah di depan sana,
adalah tentang apa dan bagaimana kita hari ini.

Beriring doa,
"Barakallahu fiik
Untuk semua jiwa yang merayakan anugerahNya hari ini.
Amiin" 

Wednesday, October 14, 2015

BIARLAH "AKU" BICARA

Tak usah panjangkan kata
Berdiam diri lalu dengarlah
Bulan bersuara menghela jiwa
Nyanyian rindunya tak kenal jeda


Thursday, July 23, 2015

M.A.M.A


Hari ini, lewat postingan seseorang yang saya kenal, salah satu viewnya adalah lokasi dimana Mama dimakamkan. Saya penasaran dan sangat berharap, saya bisa melihat makam Mama dari sekian foto yang diupload. Saya mengamati setiap detil foto. Dan, iya feeling ku bener. Ada makam Mama ikut ke shoot. 

Beberapa bulan terakhir, bathinku memanggil Mama.
Tapi hari ini rasanya seperti berbalik.
Entahlah. *crying*
Mudik baru saya rencanakan setelah nambah satu agenda lagi yang terselesaikan.
Insya ALLAH. 
Aamiin.


Sunday, April 05, 2015

PASAR TERAPUNG: Perpaduan Karakteristik Alam dan Budaya Manusia

(Lokasi: Batu Licin, Kalimantan Selatan)
 
Alam dengan karakteristiknya, manusia tinggal menyesuaikan budayanya.
Selayaknya tak mengubahnya terlalu banyak..
..atau merusaknya.

Tuesday, March 03, 2015

Catatan Duka di Awal Maret



Setelah postingan sebelumnya "Kanker, lagi-lagi kamu"

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un..
Tepat pukul 16.10 WIB, kabar duka itu datang.

Saya cukup mengenalnya dengan baik. Beberapa kali meminjamkan ruangannya untuk saya pakai diskusi atau mengetik tugas akhir. Sesekali beliau juga memberi semangat agar saya lebih keras berjuang menyelesaikan studi.

Selamat jalan Ibu Doktor.. Semoga dilapangkan jalan menuju Jannah. Aamiin Ya Rabb.

Thursday, January 22, 2015

Hidup ini Fana: Sesaat dan Sementara

"Hidup ini fana, sesaat dan sementara". Status itu barusan saya pasang di bbmku. Tiba-tiba ingin mengatakan itu ke diri sendiri, syukur-syukur teman bbmku ikut membacanya. Pertengahan malam tadi, seorang teman memanggil namaku dari balik jendela kamar, memastikan jika saya belum tidur. Kebetulan memang saya masih di depan laptop mengutak atik bahan tugas akhir. Saat saya tanya "Iya ada apa?", ia lalu mengabarkan bahwa papa tetangga kamarku baru saja berpulang. "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un", ucapku sembari mencoba tak panik (tapi tetap aja panik). Sedikit gambaran tentang dia, anaknya periang, aktif dan penuh semangat. Baru saja ia menyelesaikan ujian akhir semester, lalu malamnya langsung cabut untuk mudik ke Sulawesi, katanya karena papanya sakit. Artinya tak cukup sehari semalam kebersamaan mereka.
***
Iya, itu hanya kemasan luar yang ingin saya ceritakan. Yang sebenarnya ingin saya bagi adalah jarak yang jauh dari keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, menjadi salah satu alasan utama mengapa kemudian saya menganggap perjuangan kami di sini amat sangat mahal harganya. Tak sekedar hanya materi, lebih dari itu, ada kebersamaan yang takkan pernah bisa sebanding atau bisa digantikan dengan apapun di dunia ini. Sedetik dua detik, kerinduan bisa reda dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi pada detik-detik yang lainnya, kadang hanya bisa diredakan dengan air mata dan tangan menengadah.
***
Hidup ini memang fana, sesaat dan sementara. Ini sebagai pembatas (terutama bagi saya), untuk diingatkan kembali, tak boleh larut jauh mengkuantifikasi seberapa mahal perjuangan ini. Apalagi kemudian membandingkannya dengan orang lain. Bahwa ada hal yang harus senantiasa disiapkan, kapanpun dan dimanapun, menjadi hal terpenting dalam memenangi perjuangan kita sesungguhnya.

Tuesday, January 13, 2015

Foto: MAKE OVER ME

 
(Lokasi: Waitawar, Kec. Balanipa, Polman, Sulawesi Barat)

Foto: MENGGELINDING


(Lokasi: Palippis, Kec. Balanipa, Polman, Sulawesi Barat)



Saturday, December 27, 2014

ANDIANG DAQDUAMMU (Mandar Song)

Pencarian berbuah manis..akhirnya nemu juga lagu ini. Hasil upload ulangnya, boleh dengar di sini.

Iq omo cinna mataq u
Sangga iq o dilalandiateu
Membolottama diate mappaccingngu
Mokaraq namerasai panoso

Tennaq nariandi
Daqduau dilalang diatemu
Bawamaq lao di lino tammembaliq
Sembangammaq damuingarambomi

Reff.
Okandiq polemo mai
Bawangaq saliliq u
Pau rianna nyawau

Sawaq sanggaq iomo
Papperandanna nyawau
Andiang andiang da’duammu

Tuesday, December 09, 2014

KANKER, LAGI-LAGI KAMU!

Kejadian beberapa tahun silam seperti berulang kembali. Masih lekat di memoriku, terakhir kali kujabat tangan lembutnya, hanya selang beberapa hari sebelum akhirnya ia kalah juga dengan kanker getah beningnya. *Al Fatihah...

8 Desember 2014.
Hari ini saya diajak teman menjenguk seorang kolega yang sakit, kanker payudara. Terakhir, dokter juga memvonis beliau mengalami pengapuran di kepala. Ah, penyakit apalagi itu? Katanya, rasanya sakit sekali.

Saya ingat pertemuan terakhir sebelumnya, saya masih sempat bertemu di kantornya. Tapi hari ini, pertama kali melihatnya terbaring di kamarnya yang telah disulap mirip bangsal rumah sakit. Saya sempat berlindung di belakang teman-teman yang lain, menunggu air yang berkaca-kaca di mata saya mengering. Ya Allah...

Sudah operasi, lalu kemoterapi, entah sudah yang ke berapa. Soal biaya, bukan jumlah sedikit lagi yang sudah digelontorkan. Hasil? Saya tidak melihat progress yang menggembirakan. Kadang melihat hal seperti ini, sayalah yang lebih takut menghadapi hari esok. Astaghfirullah.

Menjelang pulang, saat berpamitan, saya berada di antrian terakhir. Saya melangkah mendekat, mencoba menatap dalam wajahnya. Tapi ekspresinya begitu dingin dengan tetap menatap ke arah jendela. Saya tidak sanggup bersuara. Hanya bisa meraih tangannya untuk bersalaman. Masih bisa kurasakan telapaknya yang begitu lembut, masih sama seperti biasa. Bedanya, kali ini tangan kami bukan bersambut. Tangan sayalah yang meraih dan menyelesaikan sendiri salaman itu.

Untuknya, semoga Allah memberi keajaiban.. memberi kekuatan padanya dan segera mengangkat penyakitnya. Aamiin.

Saturday, December 06, 2014

QUINA "Patah Hati"

Quina...
 
 
Cukup lama tak menyentuhnya. Menemukannya begini, rasanya seperti...tiba-tiba berharap menemukan tombol waktu untuk mengembalikan semuanya.
 
 
Sayangnya, manusia tak diberi keleluasaan untuk itu. Tanya mengapa? Bayangkan, jika kita bisa memutar waktu seenaknya. Sebagian jawaban atas pertanyaan ini mungkin karena dunia ini bisa jadi akan penuh dengan anak kecil yang tahunya hanya ingin bermain tanpa perlu memikirkan beban hidup hari ini dan esok
Atau, bisa jadi dunia ini akan penuh dengan anak belasan tahun yang tengah asyik menikmati masa remaja, masa-masa transisi mencari jati diri. Bayangkan...dunia ini tanpa orang dewasa, orang tua, apalagi yang renta.
Masih mau tanya mengapa? Sebagian jawabnya mungkin waktu tak kan lagi berarti apa-apa. Bukan lagi ibarat pedang yang setiap saat bisa menebasmu. Bukan lagi ibarat taring yang setiap saat bisa menggigitmu. Dan bukan lagi ibarat uang, yang menghamburkannya, takkan lagi kau sebut merugi.
Sudah, jangan lagi tanya mengapa. Saya ngantuk. Tentang Quina, ia sudah berpindah tangan. Saya tak tega membuangnya. Meski kondisinya begitu, ternyata masih ada yang menginginkannya. Nah, kalau yang ini, bahasannya lain lagi. Silahkan diinterpretasi duluan, saya mau tidur. Ingat, jangan lama-lama. Jika tak ada aktivitas lagi, segera penuhi hak tubuh untuk istirahat. Kita tak punya tombol untuk memperpanjang malam... :D
 
 

"Bintang Kehidupan" Hanin Dhiya (Rising Star Indonesia)

Not pertama dari keyboard yang dimainkan Hanin di lagu ini sontak membuat aktivitas saya terhenti. Tiba-tiba merasa tak puas hanya nonton dalam kamar. Sesaat kemudian saya sudah berpindah duduk manis di ruang TV. Pertama kalinya saya nonton acara Rising Star Indonesia di luar kamar. Ini re-arrangement lagu Bintang Kehidupan terbaik yang pernah saya dengar. Tarikannya beda :)
Nice Hanin.

Versi NIKE ARDILLA
 

Versi HANIN DHIYA

Sunday, November 16, 2014

FRESH PINK

Lagi bosan dengan tampilan warna warni ataupun netral minimalis, hatiku lagi nuansanya pinky banget. Kembali ke selera asal. Imbasnya kena blog saya juga. Nih.



Thursday, November 06, 2014

APA KABAR MAMA?

Assalamu alaikum Ma,
Mama apa kabar?
Lihat aku
Putrimu
Masihku di raga yang ini Ma..
Raga yang dulu kecil dan mungil dalam buaianmu
Raga yang dulu pernah sesaat berdiam di dalam box kaca
Yang Mama beri tanda sarung batik
Agar tak tertukar, iya kan Ma?
Dan aku memang bukan Putri yang Tertukar
Mata kita sama Ma..

Mama
Sudah 6 November lagi Ma
Dan hari ini hari yang sama
Tepat 11 tahun yang lalu
Pertama kalinya
Raga kita tak lagi bisa saling mendekap

Mama
Aku masih sering merasa
Mama itu jauh..
Jauh sekali
Tapi sebenarnya tak begitu kan Ma?
Mama mungkin akan letih mengikuti pengembaraan ini
Jadi Tuhan menggariskan ketetapan yang berbeda dengan inginku
Yang lebih sering manusia pertanyakan keadilannya
Termasuk aku
Yang merasa belum sempat memberimu bahagia dunia

Oh Mama..
Pikiranku ternyata memang masih sempit Ma
Sempit sekali malah
Masih selalu mengukur semuanya dengan kacamata dunia

Tapi
Sekarang setidaknya aku mulai belajar tenang Ma
Memaknai hadirmu dalam jiwaku
Itu yang sedang kubiasakan kini
Bahwa Mama itu bukan pergi
Mama itu bukan jauh 
Dan bukan semakin menjauh
Mama itu justru sedang menunggu
Iya kan Ma menunggu..
Menunggu transisi terbaik putrimu
Menembus tirai rahasia pembatas dua alam

Aduh...
Bisa atau tidak ya Ma?


Ciputih Gugahsari, 6 November 2003+11