Di dunia nyata
Lisan kita
Adalah tentang tutur kata
Di dunia maya
Tulisan kita
Adalah tentang tutur bahasa
Jadi sama saja
Teknologi menjarah ke segala arah
Menguliti habis karakter jiwa
Memiskinan hati yang tadinya kaya
Mengikis semua yang bersahaja
Hingga yang sederhana
Tak lagi bersisa
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Friday, April 26, 2019
Sunday, April 29, 2018
AMUBA
Saat harus menghandle bbrp hal dalam waktu yg sama, saya berfikir andai saja tiba2 bisa jadi amuba. Membelah diri. Selesai. Enak banget ya.
Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Kita bukan amuba. Kita jauh lbh istimewa dari makhluk ciptaan Tuhan yang itu (Amuba).
Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Kita bukan amuba. Kita jauh lbh istimewa dari makhluk ciptaan Tuhan yang itu (Amuba).
Tuesday, June 14, 2016
Hikmah
Hanya utk mengkonfirmasi kesediaan pembimbing untuk tanggal ujian, sy menuju kampus hari ini. Hingga sore hari, yg sy butuhkan konfirmasinya terlihat masih sangat sibuk. Kenapa tak sms aja? Justru karena dari kemarin sdh saya sms dan belum ada jawaban, makanya sy berniat menemui beliau aja langsung. Tiba waktu yg sy tunggu, tiba2 hak sepatu sy copot. Gak mungkin rasanya untuk menemui beliau dg kondisi spt itu. Akhirnya dengan langkah sedikit diseret, sy mencari 'warung' yang menjual lem sepatu.
Dalam perjalanan, sy bertemu pengemis dengan kondisi fisik yang tak sempurna di wajah. Dalam hati, sy berfikir pengemis itu mah sebenarnya masih bisa bekerja, tanpa harus duduk manis, menengadahkan tangan, mengharap belas kasihan orang dengan memanfaatkan kondisinya seperti itu. Saya pun berlalu tanpa menggubrisnya sama sekali. Singkat cerita, sy dapat lem dan memperbaiki hak sepatu sy yang lepas. Alhamdulillah bisa baik lagi. Segera sy balik lagi ke dalam kampus. Pas nyampe depan ruang fakultas, sy diberi tahu bahwa dosen yang sy tunggu itu baru aja pulang. Ya Allah, selisih waktu kami hanya sesaat, tp tak jua Engkau ijinkan bertemu.
Akhirnya sy putuskan untuk pulang aja. Di perjalanan, pengemis itu masih ada. Kali itu sy berfikir, ada yg harus saya perbaiki detik itu juga. Saya tak tahu persis kesulitan hidup seperti apa yang ia hadapi sampai harus seperti itu. Tanpa berfikir macam2 lagi, sy menaruh selembar uang di atas kain putih yg ia gelar. Dari sudut mataku, nampak olehku bahwa ia terlihat senang. Ya Allah, Astagfirullah, Astaghfirullah. Saya merasa tadi itu saya tak sengaja telah menghakiminya. Astaghfirullah. Biarpun tak dapat jawaban kepastian tanggal ujian, tak apalah. Setidaknya, sy bisa pulang dengan perasaan tak ber"hutang".
Sesampainya di asrama, satu persatu tas ransel dan bawaan lainnya sy turunkan. Sebelum lanjut ke aktivitas yang lain, hatiku tergerak membuka hp lebih dulu. Dan ternyata, ada sms "ok 27:9". Alhamdulillah. Sms itu saya baca dengan terharu... Dan, cerita ini pun ditutup dengan hikmah dari Yang Maha Sempurna.
Ciputih Gugahsari 14 Juni 2016
_____________________________________
Pelajaran yang saya ambil:
Hati-hati menyimpulkan sesuatu atau dari sebuah fenomena;
kesimpulan itu bisa jadi berlaku sebagai penghakiman atas diri orang lain;
sementara Allah-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Adil dengan penghakiman-Nya.
Tuesday, May 17, 2016
Semua kembali ke Kontrak Awal
(Catatan kecil saya dari sebuah pengajian)
Kata Pak Ustadz...
Setiap ibu memiliki kontrak awal dengan Tuhan: mendidik dan membesarkan putra putrinya. Dan, mereka, setiap ibu, akan dimintai pertanggungjawaban sesuai kontrak awalnya tersebut.
Bagaimana jika ia seorang wanita karir, lalu tugas itu "didelegasikan" kepada orang lain, misalnya kepada baby sitter? Jawabnya, tetap sang ibulah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan baby sitternya. Jadi macam ada 2 kontrak:
(1) kontrak antara ia dan baby sitternya; dan
(2) kontrak antara ia dan Tuhannya.
Jika paham kontraknya,maka jelas juga aturan mainnya, termasuk apa dan pada siapa pertanggungjawabannya.
Jika paham kontraknya,maka jelas juga aturan mainnya, termasuk apa dan pada siapa pertanggungjawabannya.
Boleh gunakan analogi ini:
menjaga dan merawat kebun adalah tugas tukang kebun sesuai kontrak pekerjaan yang disepakatinya dengan majikan. Jika si tukang kebun meminta tolong kepada temannya untuk membantu mengurus taman, sang majikan tidak akan meminta pertanggungjawaban kepada teman tukang kebun. Tetapi, sang majikan tetaplah akan meminta pertanggungjawaban kepada si tukang kebun.
Jika kebunnya bagus, maka sang majikan akan senang dan mungkin akan memberinya insentif untuk meningkatkan kinerjanya. Sementara itu, si tukang kebun paham betul siapa yang telah berkontribusi pada pencapainnya itu. Karenanya, ia (tukang kebun) selayaknya berterima kasih dan menghargai teman yang telah membantunya tersebut.
Jika kebunnya bagus, maka sang majikan akan senang dan mungkin akan memberinya insentif untuk meningkatkan kinerjanya. Sementara itu, si tukang kebun paham betul siapa yang telah berkontribusi pada pencapainnya itu. Karenanya, ia (tukang kebun) selayaknya berterima kasih dan menghargai teman yang telah membantunya tersebut.
#hatihatibacanya
#udahgituaja
Sunday, February 14, 2016
PESTA MEWAH BUAT "KITTY"
"Kitty" itu pemanis judul aja :)
Hari itu
saya sedang duduk menunggu dosen. Ditemani Bibi "pengendali dapur".
Sebut saja begitu. Sambil ngobrol berdua, di depan kami tiba2 muncul seekor
anak kucing yang tampak liar dengan tubuhnya yang sangat kurus. Saya ngomong ke Bibi, "Bi, ada
sisa2 makanan ga Bi?". Bibi menjawab,"Ga ada neng, paling juga
siangan klo ada yg mesen makanan dari luar". Saya paham jawaban Bibi,
karena dapur yang ia jaga hanya semacam dapur praktis, hanya utk sajian2
tertentu spt teh dan kopi. Si Kucing terus saja
mengeong dengan kalapnya mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Tak lama berselang, seorang
mahasiswi datang menghampiri kami dan menyapa Bibi. Ia tak ikut duduk. Ia
menghampiri si Kucing dan mengeluarkan Whiskas (makanan kucing kemasan) dari
tas ranselnya. Saya ingat reaksi si Kucing yang mengeong makin nyaring sebelum
memulai pesta kecilnya yang mewah. Hingga ia kenyang, si mahasiswi itu nampak
menemaninya, mengajaknya berbicara, penuh kasih sayang. Pemandangan itu benar2
mengharukanku.
Bahwa, masih sangat sedikit orang yang tergerak hatinya melakukan hal-hal istimewa semacam itu. Memberi ikan yang tersisa dari piring kita, itupun mungkin tulangnya aja. Kenapa tak berfikir memberi isi atau dagingnya? Apa yg dilakukan mahasiswi muda itu, sungguh adalah pengalaman dan pelajaran yang mengagumkan bagi aku pribadi, dari
seseorang yang tak saya kenal dan usianya jauh di bawah saya.
Monday, November 02, 2015
SENIN ISTIMEWA
Judul postingan kali ini "Senin Istimewa". Banyak momen istimewa yang kudapati hari ini. Dari mulai konsultasi yang berujung lampu hijau dari Supervisor untuk lanjut ke tahap berikutnya, nganterin jurnal yang udah publish ke mereka, obrolan kecil dan doa yang manis dari seberang, hingga barusan...dianterin bakso bangka surprise depan pintu *senyumlebar*. Ah rejeki mah ga kemana.
Hari ini juga rasanya lebih fresh ngetik. Alhamdulillah laptopku sudah stabil lagi setelah kemarin sebulan lebih 'sakit', sering restart tiba-tiba gitu. Kebayang, pas lagi dibutuhin di momen2 akhir begini, dianya ngadat. Benar-benar pengen nangis rasanya, setiap pas selesai ngetik ide dan belum sempat disave, tiba-tiba restart seenaknya. Stelah stabil gini, pengalaman ngerjain tulisan dalam kondisi laptop sakit, malah jadi kenangan yang melekat banget di memory, justru karena nilai juangnya terasa lebih kuat dan habis-habisan menguji kesabaran saya.
Btw, malam ini semangat gegap gempita pengen begadang ngolah data kawan. Bantu teman seperti jadi hobby baru. Gara-garanya pernah menghadapi kesulitan dan hampir nggak tau mau minta tolong ke siapa. Lalu saya pernah pula membaca tulisan ini di salah satu medsos: "Menolong orang lain tak butuh alasan". Bagiku sih alasan tetap ada, Lillahi Ta'ala. Ya iyalah. Maksud sy bukan ingin mematahkan kalimat itu. Saya tetap sepakat pesan intinya "menolong dengan tulus". Sebab yang lainnya, sy merasakan benar beberapa pekan terakhir banyak hal yang saya alami, entah itu pengalaman dari saya, maupun dari teman.
Pernah saya ingin minta tolong ke seseorang, namun terkendala karena dianya sibuk. Saya kebingungan harus ke siapa lagi. Sambil duduk mikir gitu, kemudian saya curhat ke seseorang yang lain, yang justru benar-benar di luar ekspektasi saya bakal bisa ngebantuin nyari jalan keluar. Eh malah ternyata dia yang bisa membantu mencarikan solusi yang saya butuhkan. Saya menyebutnya, itu jalan-jalan rahasia yang dibuka Tuhan. Wallahu a'lam. Maha Suci Allah yang selalu menuntun dan membolak-balikkan hati kita.
Rumus sederhananya kira-kira begini:
"Jika ingin Tuhan membuka jalan keluar rahasianya untuk kita,
bukalah jalan keluar sebanyak-banyaknya bagi orang lain,
semampu yang kita bisa,
dan tulus."
Thursday, January 22, 2015
Hidup ini Fana: Sesaat dan Sementara
"Hidup ini fana, sesaat dan sementara". Status itu barusan saya pasang di bbmku. Tiba-tiba ingin mengatakan itu ke diri sendiri, syukur-syukur teman bbmku ikut membacanya. Pertengahan malam tadi, seorang teman memanggil namaku dari balik jendela kamar, memastikan jika saya belum tidur. Kebetulan memang saya masih di depan laptop mengutak atik bahan tugas akhir. Saat saya tanya "Iya ada apa?", ia lalu mengabarkan bahwa papa tetangga kamarku baru saja berpulang. "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un", ucapku sembari mencoba tak panik (tapi tetap aja panik). Sedikit gambaran tentang dia, anaknya periang, aktif dan penuh semangat. Baru saja ia menyelesaikan ujian akhir semester, lalu malamnya langsung cabut untuk mudik ke Sulawesi, katanya karena papanya sakit. Artinya tak cukup sehari semalam kebersamaan mereka.
***
Iya, itu hanya kemasan luar yang ingin saya ceritakan. Yang sebenarnya ingin saya bagi adalah jarak yang jauh dari keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, menjadi salah satu alasan utama mengapa kemudian saya menganggap perjuangan kami di sini amat sangat mahal harganya. Tak sekedar hanya materi, lebih dari itu, ada kebersamaan yang takkan pernah bisa sebanding atau bisa digantikan dengan apapun di dunia ini. Sedetik dua detik, kerinduan bisa reda dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi pada detik-detik yang lainnya, kadang hanya bisa diredakan dengan air mata dan tangan menengadah.
***
Hidup ini memang fana, sesaat dan sementara. Ini sebagai pembatas (terutama bagi saya), untuk diingatkan kembali, tak boleh larut jauh mengkuantifikasi seberapa mahal perjuangan ini. Apalagi kemudian membandingkannya dengan orang lain. Bahwa ada hal yang harus senantiasa disiapkan, kapanpun dan dimanapun, menjadi hal terpenting dalam memenangi perjuangan kita sesungguhnya.
Saturday, December 06, 2014
QUINA "Patah Hati"
Quina...
Cukup lama tak menyentuhnya. Menemukannya begini, rasanya seperti...tiba-tiba berharap menemukan tombol waktu untuk mengembalikan semuanya.
Sayangnya, manusia tak diberi keleluasaan untuk itu. Tanya mengapa? Bayangkan, jika kita bisa memutar waktu seenaknya. Sebagian jawaban atas pertanyaan ini mungkin karena dunia ini bisa jadi akan penuh dengan anak kecil yang tahunya hanya ingin bermain tanpa perlu memikirkan beban hidup hari ini dan esok
Atau, bisa jadi dunia ini akan penuh dengan anak belasan tahun yang tengah asyik menikmati masa remaja, masa-masa transisi mencari jati diri. Bayangkan...dunia ini tanpa orang dewasa, orang tua, apalagi yang renta.
Masih mau tanya mengapa? Sebagian jawabnya mungkin waktu tak kan lagi berarti apa-apa. Bukan lagi ibarat pedang yang setiap saat bisa menebasmu. Bukan lagi ibarat taring yang setiap saat bisa menggigitmu. Dan bukan lagi ibarat uang, yang menghamburkannya, takkan lagi kau sebut merugi.
Sudah, jangan lagi tanya mengapa. Saya ngantuk. Tentang Quina, ia sudah berpindah tangan. Saya tak tega membuangnya. Meski kondisinya begitu, ternyata masih ada yang menginginkannya. Nah, kalau yang ini, bahasannya lain lagi. Silahkan diinterpretasi duluan, saya mau tidur. Ingat, jangan lama-lama. Jika tak ada aktivitas lagi, segera penuhi hak tubuh untuk istirahat. Kita tak punya tombol untuk memperpanjang malam... :D
Friday, April 04, 2014
MENCARI PELABUHAN TERAKHIR
Sisa-sisa hempasan karang masih tergambar jelas di sebagian buritan kapal ini. Usaha keras menembus ombak dan badai sungguh bukan perjuangan yang mudah. Beberapa kali harus salah jalan, terombang-ambing, hilang arah, patah kemudi hingga terdampar tiba-tiba di negeri antah berantah.
Setelah rute kesekian yang terlalui, sampailah diri di pelabuhan yang asing. Hmmm, ini bukan pelabuhan megah, karena hanya dermaga kecil yang sederhana seadanya.
Bilakah ini pelabuhan terakhir yang dituju? Bagaimana kalau ternyata masih bukan? Entahlah... Yang pasti diri sedikit lelah dan ingin segera rebah, kembali menyambung mimpi. Mimpi tentang satu bintang yang paling terang, yang cahayanya berpendar penuh hanya untuk mereka yang memahami benar sejatinya pengorbanan dan cinta. Semoga malam ini berkenan meregang waktunya sedikit lebih panjang, hingga semua tanya yang menggantung di langit sana, pun menemukan jawabnya satu-satu. Semoga. Tentu saja sebelum pagi membangunkan diri dengan kisah-kisah baru yang nyata di petualangan esok hari.
Friday, June 28, 2013
Belajar dari Mereka
Berpapasan dengan mereka yang tetap berjuang di antara hujan..
IMG1801131433
IMG1801131433
IMG1801131432
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)

