Showing posts with label A Moment. Show all posts
Showing posts with label A Moment. Show all posts

Sunday, November 22, 2020

Ke Pantai


Alhamdulillah hari ini akhirnya bisa ke pantai. Nyisihin waktu setengah hari ngajak Bapak dan ponakan. 

Pantainya lagi kurang ombak dan dangkal. Tapi bening. Sayangnya saya tak sempat mengambil gambar. Sengaja juga, tidak membawa gadget apapun. Bagi saya, ke pantai tuh rugi klo ga berendam. Ya, anugerah Tuhan yang segitu luasnya itu juga seperti sudah jadi obat ke saya. Apalagi dulu adik saya pernah menjalani terapi air laut untuk menyembuhkan sakitnya. Jadinya, ke saya jadi sugesti juga. Ibuku juga pernah menggunakan terapi air hangat yang dilaruti garam untuk mandi. Jadi klop deh sugestinya. Adikku berendamnya sekitar jam 10. Di jam itu dan setelahnya, air laut sdh terasa hangat. 

Mau coba? Boleh. Sambil ijin ke lautnya ya. Trus minta doa juga ke Gusti Allah apapun itu smoga snantiasa diberikan kesehatan :)

Thursday, April 02, 2020

Tahun-Tahun yang Penting

Sudah lama tak berkunjung ke sini. Ke blog ini. Melewatkan banyak proses penting. Sampai bingung bagusnya mulai cerita dari mana.
Sekarang sudah 2020. 3 tahun terakhir begitu penting buat saya. Akhirnya bisa fokus memilih karir sebagai

Friday, August 12, 2016

BELAJAR BERTAHAN: JELANG EPISODE BARU



Pagi itu, 1 Agustus 2016, pukul 09.00 pagi...momen puncak "Belajar Bertahan" pun dimulai. Setelah sebulan sebelumnya, bingung akan menggunakan kostum sidang seperti apa, akhirnya saya memilih kebaya kutu baru warna putih + kain panjang peninggalan Mama. Imajinasiku, Almarhumah hadir menemaniku, berdiri di samping podium. 
Selama 2 jam lebih, proses Sidang Promosi Terbuka berjalan dengan lancar. Alhamdulillah, malah gak kerasa, tau2 udah kelar aja. Saat menyampaikan kesan-kesan, sy bertahan agar gak ada yg basah di pipi. Waktunya hanya 5 menit, jadinya cukup banyak pihak yang tak sempat sy sebutkan. Sy gak enak klo kelamaan curhat dan say thanks gitu, dosennya ntar nguap. Hehehe... 
Mau berbagi apa lagi ya...sy masih speechless lepas capaian ini. Beberapa kali menemui kendala yang nampak bagi saya seperti tak punya celah solusi sedikitpun, tapi toh terlalui juga dengan "amat sangat baik-baik saja". Sy merasakan begitu banyak konstribusi dari orang2 di sekitar saya, baik yang sy kenal maupun yang tidak begitu sy kenal. Semata sy yakin semua itu karena kasih sayang dari Yang Maha Pemilik Rahmat.
Di akhir momen ini, sy menyadari bahwa "Belajar Bertahan" ini tenyata hanyalah satu episode yang telah siap berganti dengan episode2 baru yang lebih menantang. Saya ingat pesan seorang guru saya lepas tamat SMU dulu. Saat itu, saya menyodorkan diary untuk diisi oleh beberapa guru. Salah seorang guru menulis pesannya lebih kurang seperti ini..."Melangkahlah jauh (ke masa depan)... di sana kau akan temui, banyak hal yang jauh lebih indah dari yang indah kau lihat hari ini".

Sunday, June 26, 2016

MENJELANG BABAK AKHIR

Langkah ini sampai juga di ujung Jalan "Belajar Bertahan". Di depanku samar-samar nampak simpang jalan, menuju episode2 jalan yang baru. Tapi entahlah nama jalannya apa aja. Saya masih 'riweuh' dengan segala persiapan menjelang babak-babak akhir ini. 

Beberapa tahun terakhir adalah kesempatan terbaik dan berharga yang Allah berikan. Kesempatan untuk belajar banyak hal, termasuk belajar mengenali potensi diri sekaligus kekurangan-kekurangan yang menjadi PR bagi saya tentunya.

Saya berharap besok akan ada banyak doa, semoga saya bisa menuntaskannya dengan baik. Insya Allah. Aamiin.

Tuesday, December 01, 2015

BELAJAR BERTAHAN


Dikoreksi, dibongkar, lalu direvisi lagi. Begitu saja terus berulang-ulang. Kadang sampai jadi candaan, nunggu siapa duluan, kita yang lelah atau supervisor yang bosan melihat wajah kita. Hahha. Teringat saat masih awal dulu, pernah sekali menghadap supervisor. Menyodorkan draft yang dibuat berbulan-bulan. Saat beliau mengatakan itu blm apa2, substansinya tak kena, saya drop 3 bulan. Benar2 tak bisa berfikir. Rasanya spt masuk dalam terowongan gelap sangat. Setelah akhirnya bisa keluar dan mulai bisa membuka alam fikir lagi, tiba2 spt tersadar ada waktu yang terbuang. Sy berusaha utk tak menyesali, sebab telah sy paksakan pun, mmg tak bisa. Teman yang lain, menempuh lorong gelapnya bahkan hingga hampir 2 tahun. Ternyata, kejadian itu berulang lagi dan lagi. Tp lama2 terbiasa juga. Belajar memenej pertahanan diri selama proses ini menjadi hal yang utama. Jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi. Babak belur sdh tak peduli, yg penting bisa berdiri dan melangkah sdh bersyukur banget. Soal pasang target kapan selesainya, inipun sudah beberapa kali revisi. Kita tunggu saja...selesai tepat waktu atau selesai di waktu yang tepat. :D

Maunya segera ya Allah...Aamiin.  (Doain ya...)

Monday, November 02, 2015

SENIN ISTIMEWA




Judul postingan kali ini "Senin Istimewa". Banyak momen istimewa yang kudapati hari ini. Dari mulai konsultasi yang berujung lampu hijau dari Supervisor untuk lanjut ke tahap berikutnya, nganterin jurnal yang udah publish ke mereka, obrolan kecil dan doa yang manis dari seberang, hingga barusan...dianterin bakso bangka surprise depan pintu *senyumlebar*. Ah rejeki mah ga kemana. 

Hari ini juga rasanya lebih fresh ngetik. Alhamdulillah laptopku sudah stabil lagi setelah kemarin sebulan lebih 'sakit', sering restart tiba-tiba gitu. Kebayang, pas lagi dibutuhin di momen2 akhir begini, dianya ngadat. Benar-benar pengen nangis rasanya, setiap pas selesai ngetik ide dan belum sempat disave, tiba-tiba restart seenaknya. Stelah stabil gini, pengalaman ngerjain tulisan dalam kondisi laptop sakit, malah jadi kenangan yang melekat banget di memory, justru karena nilai juangnya terasa lebih kuat dan habis-habisan menguji kesabaran saya.

Btw, malam ini semangat gegap gempita pengen begadang ngolah data kawan. Bantu teman seperti jadi hobby baru. Gara-garanya pernah menghadapi kesulitan dan hampir nggak tau mau minta tolong ke siapa. Lalu saya pernah pula membaca tulisan ini di salah satu medsos: "Menolong orang lain tak butuh alasan". Bagiku sih alasan tetap ada, Lillahi Ta'ala. Ya iyalah. Maksud sy bukan ingin mematahkan kalimat itu. Saya tetap sepakat pesan intinya "menolong dengan tulus". Sebab yang lainnya, sy merasakan benar beberapa pekan terakhir banyak hal yang saya alami, entah itu pengalaman dari saya, maupun dari teman. 

Pernah saya ingin minta tolong ke seseorang, namun terkendala karena dianya sibuk. Saya kebingungan harus ke siapa lagi. Sambil duduk mikir gitu, kemudian saya curhat ke seseorang yang lain, yang justru benar-benar di luar ekspektasi saya bakal bisa ngebantuin nyari jalan keluar. Eh malah ternyata dia yang bisa membantu mencarikan solusi yang saya butuhkan. Saya menyebutnya, itu jalan-jalan rahasia yang dibuka Tuhan. Wallahu a'lam. Maha Suci Allah yang selalu menuntun dan membolak-balikkan hati kita.

Rumus sederhananya kira-kira begini:

"Jika ingin Tuhan membuka jalan keluar rahasianya untuk kita, 
bukalah jalan keluar sebanyak-banyaknya bagi orang lain,
semampu yang kita bisa,
 dan tulus."

Thursday, October 15, 2015

Pesan Hati

Dear, 
yg Tuhan restu.

Di antara spasi disertasi,
kuselip sepucuk pesan hati.

Tak ada perayaan atau apapun,
tambahan angka di usia kita,
akan selalu berbanding terbalik dengan sisa umur kehidupan kita.

Bersyukur dan tetap istiqomah,
tak hanya untukmu,
tapi bagiku juga
dan untuk semua.

Ada yang indah di depan sana,
adalah tentang apa dan bagaimana kita hari ini.

Beriring doa,
"Barakallahu fiik
Untuk semua jiwa yang merayakan anugerahNya hari ini.
Amiin" 

Thursday, July 23, 2015

M.A.M.A


Hari ini, lewat postingan seseorang yang saya kenal, salah satu viewnya adalah lokasi dimana Mama dimakamkan. Saya penasaran dan sangat berharap, saya bisa melihat makam Mama dari sekian foto yang diupload. Saya mengamati setiap detil foto. Dan, iya feeling ku bener. Ada makam Mama ikut ke shoot. 

Beberapa bulan terakhir, bathinku memanggil Mama.
Tapi hari ini rasanya seperti berbalik.
Entahlah. *crying*
Mudik baru saya rencanakan setelah nambah satu agenda lagi yang terselesaikan.
Insya ALLAH. 
Aamiin.


Tuesday, March 03, 2015

Catatan Duka di Awal Maret



Setelah postingan sebelumnya "Kanker, lagi-lagi kamu"

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un..
Tepat pukul 16.10 WIB, kabar duka itu datang.

Saya cukup mengenalnya dengan baik. Beberapa kali meminjamkan ruangannya untuk saya pakai diskusi atau mengetik tugas akhir. Sesekali beliau juga memberi semangat agar saya lebih keras berjuang menyelesaikan studi.

Selamat jalan Ibu Doktor.. Semoga dilapangkan jalan menuju Jannah. Aamiin Ya Rabb.

Saturday, December 06, 2014

QUINA "Patah Hati"

Quina...
 
 
Cukup lama tak menyentuhnya. Menemukannya begini, rasanya seperti...tiba-tiba berharap menemukan tombol waktu untuk mengembalikan semuanya.
 
 
Sayangnya, manusia tak diberi keleluasaan untuk itu. Tanya mengapa? Bayangkan, jika kita bisa memutar waktu seenaknya. Sebagian jawaban atas pertanyaan ini mungkin karena dunia ini bisa jadi akan penuh dengan anak kecil yang tahunya hanya ingin bermain tanpa perlu memikirkan beban hidup hari ini dan esok
Atau, bisa jadi dunia ini akan penuh dengan anak belasan tahun yang tengah asyik menikmati masa remaja, masa-masa transisi mencari jati diri. Bayangkan...dunia ini tanpa orang dewasa, orang tua, apalagi yang renta.
Masih mau tanya mengapa? Sebagian jawabnya mungkin waktu tak kan lagi berarti apa-apa. Bukan lagi ibarat pedang yang setiap saat bisa menebasmu. Bukan lagi ibarat taring yang setiap saat bisa menggigitmu. Dan bukan lagi ibarat uang, yang menghamburkannya, takkan lagi kau sebut merugi.
Sudah, jangan lagi tanya mengapa. Saya ngantuk. Tentang Quina, ia sudah berpindah tangan. Saya tak tega membuangnya. Meski kondisinya begitu, ternyata masih ada yang menginginkannya. Nah, kalau yang ini, bahasannya lain lagi. Silahkan diinterpretasi duluan, saya mau tidur. Ingat, jangan lama-lama. Jika tak ada aktivitas lagi, segera penuhi hak tubuh untuk istirahat. Kita tak punya tombol untuk memperpanjang malam... :D
 
 

"Bintang Kehidupan" Hanin Dhiya (Rising Star Indonesia)

Not pertama dari keyboard yang dimainkan Hanin di lagu ini sontak membuat aktivitas saya terhenti. Tiba-tiba merasa tak puas hanya nonton dalam kamar. Sesaat kemudian saya sudah berpindah duduk manis di ruang TV. Pertama kalinya saya nonton acara Rising Star Indonesia di luar kamar. Ini re-arrangement lagu Bintang Kehidupan terbaik yang pernah saya dengar. Tarikannya beda :)
Nice Hanin.

Versi NIKE ARDILLA
 

Versi HANIN DHIYA

Sunday, November 02, 2014

Dari Kumpulan Puisi Sugiarta Sriwibawa

Pohon, rumahku
Kamar dengan jendela terbuka

Ketika fajar datang ke kamar ibu
Dia bangun sendiri dari mimpi pagi:
– Semalam anakku sungguh
Cintakan bulan

(Sala, ulang tahun 1950; Sugiarta Sriwibawa)

Rumpun bambu, kini rumah sementaraku
Kamar dengan jendela terbuka satu

Ketika fajar menghampiri foto kenangan ibu
Dia masih bisa bangun sendiri dari mimpi pagi:
– Semalam anakmu masih sungguh
Rindukan bulan

(Ciputih Gugahsari, ulang tahun 2014; BR)

Thursday, October 30, 2014

BEHIND THE SCENE OF ME


Yang ga pernah rewel
Yang ga pernah nyusahin
Yang ga pernah marah
Dan yang paling sabar
Hahaha...
Ahh..apa lagi ya Sus??
Yang jelas..
Kita masih di sini
Masih berjuang
Happy Your Special Day, Sus!

Friday, October 17, 2014

CATATAN 16 OKTOBER 2014


16 Oktober 2014...hari yang panjang dan melelahkan, juga MEMBAHAGIAKAN. Smoga tak berlebihan jika kusebut demikian. Setelah lumayan cukup lama berjuang untuk sampai ke hari ini, bisa sampai juga ternyata diriku ini.
Hal utama yang takkan aku lupa, ada saja bantuan yang datang tepat di saat saya butuhkan. Sejak seminggu sebelumnya, semua agenda sudah saya siapkan. Termasuk menghubungi teman-teman seperjuangan, menyampaikan undangan agar menyempatkan hadir, meminta support, atau minimal minta doa agar semuanya dapat berjalan lancar.
 
Oh...banyak yang ingin kubagi padamu, Dunia. Tapi waktuku tak begitu luang saat ini. Lewat postingan ini, saya ingin menegaskan ingatan saya bahwa moment ini melibatkan banyak pihak, banyak bantuan dan juga doa didalamnya. Semoga mereka semua selalu beroleh berkah dari Allah SWT., dan bagiku jadi motivasi untuk segera menuntaskan sekolah ini dengan baik. Saya sudah kangen dengan suasana dan rutinitas kerja yang normal. Dan...juga sudah ingin memulai edisi angan dan cita-cita baru berikutnya. Insya Allah.

Wednesday, October 15, 2014

SLAMAT ULANG TAHUN

Dunia...pinjami aku kata-kata.
Biar kedengarannya tak biasa-biasa saja.

"Kakak, Slamat Ulang Tahun,
Barakallahu fikum. Aamiin."

Udah, gitu aja.

Thursday, July 24, 2014

Hadiah Ramadhan Tahun Ini

 
Hampir genap setahun saya menunggu hari ini. Hari di mana Ujian Prelim Lisan-ku dilaksanakan. Membayangkan 6 orang dosen penguji (termasuk Tim Pembimbing) sungguh membuatkan gelisah. Mungkin tepatnya merasa memiliki beban moral ya ketika ditanya lalu tak bisa menjawab, atau menjawab tapi salah. Aduduuuhhh…jangan sampai begitu…

Satu per satu mereka (Tim Penguji) pun muncul dari balik pintu. Sambil sesekali kuperhatikan jam yang melingkar di lenganku.

Setelah semua lengkap, oleh Ketua Tim Penguji, saya diminta keluar ruangan dulu. Mereka kemudian berunding. Entah apa pastinya yang mereka rundingkan. Sekitar 10 menit kemudian saya diminta masuk kembali ke ruangan. Dan…proses ujianpun dimulai dengan presentasi proposalku terlebih dahulu. Setelahnya, dilanjutkan ke sesi tanya jawab yang cukup alot menurutku. Berurutan dari Tim Penguji Luar, Tim Pembimbing yang juga bertindak sebagai Tim Penguji, serta Ibu Ketua Tim Penguji dari Program Studi.

Dua stengah jam berlalu ketika selang waktu ujian dirasa cukup. Aku diminta keluar ruangan lagi. Menunggu di luar ruangan serasa tak berpijak di lantai manapun. Yang ada hanya deg-degan. Saat diminta kembali masuk ruangan, Ibu Ketua sempat nanya perasaanku gimana. Jawabku simple, “masih deg-degan Bu” aku senyum gamang pengen cepat tahu hasilnya.

Detik-detik yang kunanti pun tiba. Dengan seksama kudengar Ibu Ketua mengatakan ini:
“…. dinyatakan layak untuk menjadi Kandidat Doktor, artinya untuk Ujian Prelim ini, Anda dinyatakan LULUS..."
“Alhamdulillah.......” ucapku pelan. Ini hadiah Ramadhan buat mereka yang mendoakanku. Termasuk mereka yang saya telpon dan minta standby berdoa di sepanjang waktu ujian ini berlangsung. :D 

Sunday, June 29, 2014

Thanks Emilio


 
Thanks Emilio, thanks udah jadi bagian dari kisah perjalanan hati ini.

Tuesday, March 04, 2014

Catatan 4 Maret 2014


(Date Taken 4 Maret 2014)

Bacaan dan lafadzku, sadar belum sempurna. Tapi kesyukuran luar biasa ketika saya masih diberi waktu untuk bisa mengkhatamkannya kembali. Alhamdulilllah..


Saturday, March 01, 2014

BAWAKARAENG: Ekspedisi Yang Hampir Terlupakan

 

 

Saya ternyata harus menunggu beberapa tahun utk menyadari betapa berharganya foto ini bagi diri saya pribadi. Msh banyak puncak gunung lain yang lebih tinggi, tp utk seorang pemula, melakukan ekspedisi semacam ini bukan sesuatu yg mudah.

Keputusan untuk ikut dalam ekspedisi ini sebenarnya tak direncanakan sama sekali. Terlebih, tepat sepekan kemudian saya akan menjalani prosesi wisuda sarjana. Moment yang tentunya sudah ditunggu-tunggu orang-orang terdekat saya, terutama Bapak dan Ibu. Tapi saat ajakan teman datang, akhirnya saya “iya”kan. Takut dan khawatir jujur ada. Jangan sampai saya kenapa-kenapa. Mendaki gunung dimana tak sedikit “cerita” kegagalan mencapai puncak juga ada di sana.

Jumat siang selepas shalat, Tim Kecil kami berjumlah empat orang, start meninggalkan Makassar menuju Gowa. Tiba di Lembana, kami singgah ke rumah salah satu warga untuk istirahat dan mengecek semua perlengkapan. Hari sudah malam. Saya pikir akan menginap dulu lalu memulai pendakian esok paginya. Ternyata, sekitar pukul 20.00, saya dan Tim sudah bersiap dan langsung start malam itu juga. Hanya berbekal senter, kami menelusuri jalan setapak yang tak saya tahu seperti apa persis liukannya.

Saya tidak merekam jelas bagaimana Pos I sampai Pos V saya lewati. Hanya sesekali kami istirahat. Saya sendiri lebih sibuk bagaimana bisa melewati jalan tanpa tersandung atau terkait akar dan bagian tumbuhan lain di depanku. Oh iya, satu lagi yang menarik. Di tengah perjalanan, Tim tiba-tiba berhenti, sejenak mengajak bercengkerama dengan suasana hening, lalu ditutup dengan sesi berdoa. Di dekat kami ada makam, katanya itu salah satu pendaki yang tewas di gunung ini. Duh… begini ya solidaritas di antara mereka, sesama para pendaki.

Sesampai di Pos VI, sekitar pukul 02.00 dini hari, Tim memutuskan untuk mendirikan tenda dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Selain karena alasan medan yang sudah mulai berat menuju pos VII, dari atas juga terdengar ada badai dan terlalu beresiko jika harus melanjutkan perjalanan malam itu juga.

Tenda berdiri, menghangatkan diri di depan api unggun kecil, memperhatikan teman yang terus menerus menaburi lilin yang menyala dengan garam (katanya biar tahan lama) dst… lalu lelap dalam dekapan alam yang dingin.

Pagi pun tiba. Ada saja hal-hal yang membuatku seperti anak kecil yang baru tahu sesuatu. Salah seorang dari Tim, kakinya berdarah. Ternyata ada lintah. Saya hanya memperhatikan ketika dia mengobati bekas gigitan lintah dengan serbuk tembakau.

Setelah sarapan, Tim melanjutkan perjalanan menuju Pos VII. Perjalanan sangat saya nikmati karena hari sudah terang. Medan serta jalur dan pemandangan sekeliling tak lagi ‘sepelit’ semalam.

Perjalanan Pos VII ke Pos VIII membuat saya takjub luar biasa. Saya seperti masuk ke dalam alam mimpi. Dalam hati saya kala itu menyebut areanya Taman Firdaus. Vegetasi berupa pohon yang tingginya seragam diliputi lumut yang hijau dan lembab. Meski merangkak karena medan yang berat dan licin, tapi kekaguman saya menyaksikan semua tumbuhan indah itu masih jauh lebih besar. Subhanallah…

Tiba di Pos VIII, saya disuguhi pemandangan seperti lapangan hijau yang sangat luas. Nampak beberapa pohon yang tingginya sama, persis lukisan. Di pos ini, hawa dingin yang sangat menusuk mulai menyerang. Beberapa kali saya berusaha untuk menggerak-gerakkan badan untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap stabil. Saya coba menengadah melihat awan di atasku. Gerakannya begitu cepat, membuat mendung dan cerah bergantian hanya dalam beberapa menit yang singkat. Tak lama di pos ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos IX.

Menuju pos IX, nyali saya agak ciut. Ya Allah, saya semakin jauh meninggalkan kamarku. Hahaha. Perasaanku campur aduk. Apalagi saat mencoba menengok ke bawah. Tepat di salah satu titik, dekat ujung jurang, di bawah terlihat seperti reruntuhan. Saya benar-benar takut dan ingin menangis. Tapi, akhirnya saya berserah, berdoa dan meluruskan kembali niat, perjalanan ini semoga lancar dan tak apa-apa. Sabtu depannya, saya wisuda. Saya masih ingin melihat senyum orang-orang tercintaku saat mengenakan toga.

Perasaan campur adukku berlanjut. Untuk mencapai Pos X ternyata harus manjat dan merangkak di antara bebatuan yang cukup curam. Sungguh, nyaliku sudah hampir habis. Akhirnya dengan dibantu Tim, sampai juga di Pos X, pos terakhir. Lega banget rasanya.

Hal pertama yang saya lakukan, melihat teman mencuci wajahnya di sungai kecil yang airnya begitu dingin, saya bergegas berwudhu dan shalat zuhur di atas bebatuan.

Yang lucu, saya pikir Pos X itu sudah puncak, hehehe. Ternyata bukan. Kalau mau ke puncak, di sana ada tugu, tinggal mendaki sedikit lagi, sekitar 5 menit. O ow..

Tak sabar melihat tugu yang dimaksud, saya ditemani teman pun bergerak ke arah puncak. Di sini, ternyata harus hati-hati. Kabutnya lumayan tebal untuk ukuran siang hari. Kabut hanya mengizinkan pandangan kami hanya sejauh 1 m. Jadi tetap harus hati-hati. Kalau salah arah, bisa-bisa fatal akibatnya. Ini hampir saya alami, ketika pas ingin kembali ke Pos X, arah saya salah. Kabut menghalangi pandangan saya, tapi saya masih saja terus berjalan karena menganggap jaraknya enteng, cuma 5 menit. Alhamdulillah, beruntung teman masih sempat menjangkau pandangannnya ke saya. Ini jadi bagian pelajaran penting saya waktu itu, jangan takabur terlebih ketika berhadapan langsung dengan ketidakpastian alam.

Saya dan Tim menginap semalam di Pos X. Menikmati hangatnya api unggun di malam yang indah tapi super duper dingin. Singkat cerita, bangun pagi, sarapan kami ditemani seekor burung. Entah burung apa. Kelihatan begitu jinak dan tidak takut mendekati kami. Di tempat seperti ini, dia sendirian aja. Sepertinya sudah terbiasa dengan cuaca super dingin dan akrab dengan manusia.  Dan… hai, dia suka mie instan sisa. Hehehe.

Tiba di bagian akhir ekspedisi ini, perjalanan menuruni punggung hingga kaki gunung tak terlalu menemui rintangan, kecuali perasaan sedih layaknya sebuah perpisahan.

“Entah kapan bisa kembali, mengingat saya bukan pendaki ulung, saya hanya pemula yang bangga bisa merasakan langsung keagungan Tuhan di puncakmu, Bawakaraeng”.