Sunday, November 16, 2014

FRESH PINK

Lagi bosan dengan tampilan warna warni ataupun netral minimalis, hatiku lagi nuansanya pinky banget. Kembali ke selera asal. Imbasnya kena blog saya juga. Nih.



Thursday, November 06, 2014

APA KABAR MAMA?

Assalamu alaikum Ma,
Mama apa kabar?
Lihat aku
Putrimu
Masihku di raga yang ini Ma..
Raga yang dulu kecil dan mungil dalam buaianmu
Raga yang dulu pernah sesaat berdiam di dalam box kaca
Yang Mama beri tanda sarung batik
Agar tak tertukar, iya kan Ma?
Dan aku memang bukan Putri yang Tertukar
Mata kita sama Ma..

Mama
Sudah 6 November lagi Ma
Dan hari ini hari yang sama
Tepat 11 tahun yang lalu
Pertama kalinya
Raga kita tak lagi bisa saling mendekap

Mama
Aku masih sering merasa
Mama itu jauh..
Jauh sekali
Tapi sebenarnya tak begitu kan Ma?
Mama mungkin akan letih mengikuti pengembaraan ini
Jadi Tuhan menggariskan ketetapan yang berbeda dengan inginku
Yang lebih sering manusia pertanyakan keadilannya
Termasuk aku
Yang merasa belum sempat memberimu bahagia dunia

Oh Mama..
Pikiranku ternyata memang masih sempit Ma
Sempit sekali malah
Masih selalu mengukur semuanya dengan kacamata dunia

Tapi
Sekarang setidaknya aku mulai belajar tenang Ma
Memaknai hadirmu dalam jiwaku
Itu yang sedang kubiasakan kini
Bahwa Mama itu bukan pergi
Mama itu bukan jauh 
Dan bukan semakin menjauh
Mama itu justru sedang menunggu
Iya kan Ma menunggu..
Menunggu transisi terbaik putrimu
Menembus tirai rahasia pembatas dua alam

Aduh...
Bisa atau tidak ya Ma?


Ciputih Gugahsari, 6 November 2003+11

Sunday, November 02, 2014

Dari Kumpulan Puisi Sugiarta Sriwibawa

Pohon, rumahku
Kamar dengan jendela terbuka

Ketika fajar datang ke kamar ibu
Dia bangun sendiri dari mimpi pagi:
– Semalam anakku sungguh
Cintakan bulan

(Sala, ulang tahun 1950; Sugiarta Sriwibawa)

Rumpun bambu, kini rumah sementaraku
Kamar dengan jendela terbuka satu

Ketika fajar menghampiri foto kenangan ibu
Dia masih bisa bangun sendiri dari mimpi pagi:
– Semalam anakmu masih sungguh
Rindukan bulan

(Ciputih Gugahsari, ulang tahun 2014; BR)

Thursday, October 30, 2014

BEHIND THE SCENE OF ME


Yang ga pernah rewel
Yang ga pernah nyusahin
Yang ga pernah marah
Dan yang paling sabar
Hahaha...
Ahh..apa lagi ya Sus??
Yang jelas..
Kita masih di sini
Masih berjuang
Happy Your Special Day, Sus!

Friday, October 17, 2014

CATATAN 16 OKTOBER 2014


16 Oktober 2014...hari yang panjang dan melelahkan, juga MEMBAHAGIAKAN. Smoga tak berlebihan jika kusebut demikian. Setelah lumayan cukup lama berjuang untuk sampai ke hari ini, bisa sampai juga ternyata diriku ini.
Hal utama yang takkan aku lupa, ada saja bantuan yang datang tepat di saat saya butuhkan. Sejak seminggu sebelumnya, semua agenda sudah saya siapkan. Termasuk menghubungi teman-teman seperjuangan, menyampaikan undangan agar menyempatkan hadir, meminta support, atau minimal minta doa agar semuanya dapat berjalan lancar.
 
Oh...banyak yang ingin kubagi padamu, Dunia. Tapi waktuku tak begitu luang saat ini. Lewat postingan ini, saya ingin menegaskan ingatan saya bahwa moment ini melibatkan banyak pihak, banyak bantuan dan juga doa didalamnya. Semoga mereka semua selalu beroleh berkah dari Allah SWT., dan bagiku jadi motivasi untuk segera menuntaskan sekolah ini dengan baik. Saya sudah kangen dengan suasana dan rutinitas kerja yang normal. Dan...juga sudah ingin memulai edisi angan dan cita-cita baru berikutnya. Insya Allah.

Wednesday, October 15, 2014

SLAMAT ULANG TAHUN

Dunia...pinjami aku kata-kata.
Biar kedengarannya tak biasa-biasa saja.

"Kakak, Slamat Ulang Tahun,
Barakallahu fikum. Aamiin."

Udah, gitu aja.

Monday, September 08, 2014

PEWONGANG (MANDAR SONG)


Cipt. Bulan'R


Pamula akkeqna lettequ
Bismillah pewongan dituq u
Pamula piq akkeq na watangngu
Bismillah pewongan diateu

Reff.
Patui sallang saliliq u
Naung di Litaq Mandarru
Patui sallang saliliq u
Mating diwatammu Kakaq u

Mamula akkeqna letteq u
Bismillah pewongan diateu

***
Dengerinnya di sini ya. 😊

Resep Sambal Ikan Sagela (Gorontalo)

 


Bahan:
  •   3 ekor ikan sagela, tumbuk hingga halusbuang kulit dan tulangnya
  •   2 buah tomat
  •   3 cabai rawit merah
  •   3-5 siung bawang merah
  •   Garam
  •   Minyak untuk menggoreng 
  •   Minyak untuk menumis

Cara Membuat:
  • Panaskan minyak secukupnya, masukkan sagela yang sudah dihaluskan. Goreng sebentar. Angkat lalu sisihkan bersama minyaknya. (Tips: minyaknya secukupnya, jangan terlalu banyak).
  • Panaskan kembali minyak. Tumis bumbu berturut-turut irisan bawang merah, cabai rawit dan tomat. Aduk terus beberapa menit.
  • Masukkan ikan sagela yang telah digoreng sebelumnya.
  • Masukkan garam secukupnya.
  • Aduk terus hingga bahan dan bumbu semua menyatu.
  • Angkat, sajikan.
Sajian untuk 2 porsi.

Thursday, July 24, 2014

My Stream on SoundCloud


Alhamdulillah udah punya stream sendiri di SoundCloud... .

Hadiah Ramadhan Tahun Ini

 
Hampir genap setahun saya menunggu hari ini. Hari di mana Ujian Prelim Lisan-ku dilaksanakan. Membayangkan 6 orang dosen penguji (termasuk Tim Pembimbing) sungguh membuatkan gelisah. Mungkin tepatnya merasa memiliki beban moral ya ketika ditanya lalu tak bisa menjawab, atau menjawab tapi salah. Aduduuuhhh…jangan sampai begitu…

Satu per satu mereka (Tim Penguji) pun muncul dari balik pintu. Sambil sesekali kuperhatikan jam yang melingkar di lenganku.

Setelah semua lengkap, oleh Ketua Tim Penguji, saya diminta keluar ruangan dulu. Mereka kemudian berunding. Entah apa pastinya yang mereka rundingkan. Sekitar 10 menit kemudian saya diminta masuk kembali ke ruangan. Dan…proses ujianpun dimulai dengan presentasi proposalku terlebih dahulu. Setelahnya, dilanjutkan ke sesi tanya jawab yang cukup alot menurutku. Berurutan dari Tim Penguji Luar, Tim Pembimbing yang juga bertindak sebagai Tim Penguji, serta Ibu Ketua Tim Penguji dari Program Studi.

Dua stengah jam berlalu ketika selang waktu ujian dirasa cukup. Aku diminta keluar ruangan lagi. Menunggu di luar ruangan serasa tak berpijak di lantai manapun. Yang ada hanya deg-degan. Saat diminta kembali masuk ruangan, Ibu Ketua sempat nanya perasaanku gimana. Jawabku simple, “masih deg-degan Bu” aku senyum gamang pengen cepat tahu hasilnya.

Detik-detik yang kunanti pun tiba. Dengan seksama kudengar Ibu Ketua mengatakan ini:
“…. dinyatakan layak untuk menjadi Kandidat Doktor, artinya untuk Ujian Prelim ini, Anda dinyatakan LULUS..."
“Alhamdulillah.......” ucapku pelan. Ini hadiah Ramadhan buat mereka yang mendoakanku. Termasuk mereka yang saya telpon dan minta standby berdoa di sepanjang waktu ujian ini berlangsung. :D 

Sunday, June 29, 2014

Thanks Emilio


 
Thanks Emilio, thanks udah jadi bagian dari kisah perjalanan hati ini.

Saturday, May 03, 2014

M A M A

Cipt.: Randi



Kutak percaya
Ini semua terjadi
Mama tersayang
Pergi untuk selamanya

Hari-hariku
Kini telah berbeda
Saat dia tlah tiada
Bersamaku di dunia ini

Reff.
Mama
aku merindukanmu
Canda dan tawamu
Terbayang diingatanku

Mama
Aku merindukanmu
Hanya doa dan air mata
Yang dapat aku lakukan

Kepergianmu
Membawa banyak kenangan indah
Apapun yang kau berikan
Tak akan aku lupakan

*) Lagunya dapat dari teman, judul aslinya "AYAH". Klik link di sini untuk mendengarkan seperti apa lagunya.

Friday, April 04, 2014

MENCARI PELABUHAN TERAKHIR

Sisa-sisa hempasan karang masih tergambar jelas di sebagian buritan kapal ini.  Usaha keras menembus ombak dan badai sungguh bukan perjuangan yang mudah.  Beberapa kali harus salah jalan, terombang-ambing, hilang arah, patah kemudi hingga terdampar tiba-tiba di negeri antah berantah.

Setelah rute kesekian yang terlalui, sampailah diri di pelabuhan yang asing. Hmmm, ini bukan pelabuhan megah, karena hanya dermaga kecil yang sederhana seadanya.

Bilakah ini pelabuhan terakhir yang dituju? Bagaimana kalau ternyata masih bukan?  Entahlah...  Yang pasti diri sedikit lelah dan ingin segera rebah, kembali menyambung mimpi.  Mimpi tentang satu bintang yang paling terang, yang cahayanya berpendar penuh hanya untuk mereka yang memahami benar sejatinya pengorbanan dan cinta.  Semoga malam ini berkenan meregang waktunya sedikit lebih panjang, hingga semua tanya yang menggantung di langit sana, pun menemukan jawabnya satu-satu.  Semoga.  Tentu saja sebelum pagi membangunkan diri dengan kisah-kisah baru yang nyata di petualangan esok hari.


Tuesday, March 04, 2014

Catatan 4 Maret 2014


(Date Taken 4 Maret 2014)

Bacaan dan lafadzku, sadar belum sempurna. Tapi kesyukuran luar biasa ketika saya masih diberi waktu untuk bisa mengkhatamkannya kembali. Alhamdulilllah..


Saturday, March 01, 2014

BAWAKARAENG: Ekspedisi Yang Hampir Terlupakan

 

 

Saya ternyata harus menunggu beberapa tahun utk menyadari betapa berharganya foto ini bagi diri saya pribadi. Msh banyak puncak gunung lain yang lebih tinggi, tp utk seorang pemula, melakukan ekspedisi semacam ini bukan sesuatu yg mudah.

Keputusan untuk ikut dalam ekspedisi ini sebenarnya tak direncanakan sama sekali. Terlebih, tepat sepekan kemudian saya akan menjalani prosesi wisuda sarjana. Moment yang tentunya sudah ditunggu-tunggu orang-orang terdekat saya, terutama Bapak dan Ibu. Tapi saat ajakan teman datang, akhirnya saya “iya”kan. Takut dan khawatir jujur ada. Jangan sampai saya kenapa-kenapa. Mendaki gunung dimana tak sedikit “cerita” kegagalan mencapai puncak juga ada di sana.

Jumat siang selepas shalat, Tim Kecil kami berjumlah empat orang, start meninggalkan Makassar menuju Gowa. Tiba di Lembana, kami singgah ke rumah salah satu warga untuk istirahat dan mengecek semua perlengkapan. Hari sudah malam. Saya pikir akan menginap dulu lalu memulai pendakian esok paginya. Ternyata, sekitar pukul 20.00, saya dan Tim sudah bersiap dan langsung start malam itu juga. Hanya berbekal senter, kami menelusuri jalan setapak yang tak saya tahu seperti apa persis liukannya.

Saya tidak merekam jelas bagaimana Pos I sampai Pos V saya lewati. Hanya sesekali kami istirahat. Saya sendiri lebih sibuk bagaimana bisa melewati jalan tanpa tersandung atau terkait akar dan bagian tumbuhan lain di depanku. Oh iya, satu lagi yang menarik. Di tengah perjalanan, Tim tiba-tiba berhenti, sejenak mengajak bercengkerama dengan suasana hening, lalu ditutup dengan sesi berdoa. Di dekat kami ada makam, katanya itu salah satu pendaki yang tewas di gunung ini. Duh… begini ya solidaritas di antara mereka, sesama para pendaki.

Sesampai di Pos VI, sekitar pukul 02.00 dini hari, Tim memutuskan untuk mendirikan tenda dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Selain karena alasan medan yang sudah mulai berat menuju pos VII, dari atas juga terdengar ada badai dan terlalu beresiko jika harus melanjutkan perjalanan malam itu juga.

Tenda berdiri, menghangatkan diri di depan api unggun kecil, memperhatikan teman yang terus menerus menaburi lilin yang menyala dengan garam (katanya biar tahan lama) dst… lalu lelap dalam dekapan alam yang dingin.

Pagi pun tiba. Ada saja hal-hal yang membuatku seperti anak kecil yang baru tahu sesuatu. Salah seorang dari Tim, kakinya berdarah. Ternyata ada lintah. Saya hanya memperhatikan ketika dia mengobati bekas gigitan lintah dengan serbuk tembakau.

Setelah sarapan, Tim melanjutkan perjalanan menuju Pos VII. Perjalanan sangat saya nikmati karena hari sudah terang. Medan serta jalur dan pemandangan sekeliling tak lagi ‘sepelit’ semalam.

Perjalanan Pos VII ke Pos VIII membuat saya takjub luar biasa. Saya seperti masuk ke dalam alam mimpi. Dalam hati saya kala itu menyebut areanya Taman Firdaus. Vegetasi berupa pohon yang tingginya seragam diliputi lumut yang hijau dan lembab. Meski merangkak karena medan yang berat dan licin, tapi kekaguman saya menyaksikan semua tumbuhan indah itu masih jauh lebih besar. Subhanallah…

Tiba di Pos VIII, saya disuguhi pemandangan seperti lapangan hijau yang sangat luas. Nampak beberapa pohon yang tingginya sama, persis lukisan. Di pos ini, hawa dingin yang sangat menusuk mulai menyerang. Beberapa kali saya berusaha untuk menggerak-gerakkan badan untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap stabil. Saya coba menengadah melihat awan di atasku. Gerakannya begitu cepat, membuat mendung dan cerah bergantian hanya dalam beberapa menit yang singkat. Tak lama di pos ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos IX.

Menuju pos IX, nyali saya agak ciut. Ya Allah, saya semakin jauh meninggalkan kamarku. Hahaha. Perasaanku campur aduk. Apalagi saat mencoba menengok ke bawah. Tepat di salah satu titik, dekat ujung jurang, di bawah terlihat seperti reruntuhan. Saya benar-benar takut dan ingin menangis. Tapi, akhirnya saya berserah, berdoa dan meluruskan kembali niat, perjalanan ini semoga lancar dan tak apa-apa. Sabtu depannya, saya wisuda. Saya masih ingin melihat senyum orang-orang tercintaku saat mengenakan toga.

Perasaan campur adukku berlanjut. Untuk mencapai Pos X ternyata harus manjat dan merangkak di antara bebatuan yang cukup curam. Sungguh, nyaliku sudah hampir habis. Akhirnya dengan dibantu Tim, sampai juga di Pos X, pos terakhir. Lega banget rasanya.

Hal pertama yang saya lakukan, melihat teman mencuci wajahnya di sungai kecil yang airnya begitu dingin, saya bergegas berwudhu dan shalat zuhur di atas bebatuan.

Yang lucu, saya pikir Pos X itu sudah puncak, hehehe. Ternyata bukan. Kalau mau ke puncak, di sana ada tugu, tinggal mendaki sedikit lagi, sekitar 5 menit. O ow..

Tak sabar melihat tugu yang dimaksud, saya ditemani teman pun bergerak ke arah puncak. Di sini, ternyata harus hati-hati. Kabutnya lumayan tebal untuk ukuran siang hari. Kabut hanya mengizinkan pandangan kami hanya sejauh 1 m. Jadi tetap harus hati-hati. Kalau salah arah, bisa-bisa fatal akibatnya. Ini hampir saya alami, ketika pas ingin kembali ke Pos X, arah saya salah. Kabut menghalangi pandangan saya, tapi saya masih saja terus berjalan karena menganggap jaraknya enteng, cuma 5 menit. Alhamdulillah, beruntung teman masih sempat menjangkau pandangannnya ke saya. Ini jadi bagian pelajaran penting saya waktu itu, jangan takabur terlebih ketika berhadapan langsung dengan ketidakpastian alam.

Saya dan Tim menginap semalam di Pos X. Menikmati hangatnya api unggun di malam yang indah tapi super duper dingin. Singkat cerita, bangun pagi, sarapan kami ditemani seekor burung. Entah burung apa. Kelihatan begitu jinak dan tidak takut mendekati kami. Di tempat seperti ini, dia sendirian aja. Sepertinya sudah terbiasa dengan cuaca super dingin dan akrab dengan manusia.  Dan… hai, dia suka mie instan sisa. Hehehe.

Tiba di bagian akhir ekspedisi ini, perjalanan menuruni punggung hingga kaki gunung tak terlalu menemui rintangan, kecuali perasaan sedih layaknya sebuah perpisahan.

“Entah kapan bisa kembali, mengingat saya bukan pendaki ulung, saya hanya pemula yang bangga bisa merasakan langsung keagungan Tuhan di puncakmu, Bawakaraeng”.