Thursday, July 24, 2014

My Stream on SoundCloud


Alhamdulillah udah punya stream sendiri di SoundCloud... .

Hadiah Ramadhan Tahun Ini

 
Hampir genap setahun saya menunggu hari ini. Hari di mana Ujian Prelim Lisan-ku dilaksanakan. Membayangkan 6 orang dosen penguji (termasuk Tim Pembimbing) sungguh membuatkan gelisah. Mungkin tepatnya merasa memiliki beban moral ya ketika ditanya lalu tak bisa menjawab, atau menjawab tapi salah. Aduduuuhhh…jangan sampai begitu…

Satu per satu mereka (Tim Penguji) pun muncul dari balik pintu. Sambil sesekali kuperhatikan jam yang melingkar di lenganku.

Setelah semua lengkap, oleh Ketua Tim Penguji, saya diminta keluar ruangan dulu. Mereka kemudian berunding. Entah apa pastinya yang mereka rundingkan. Sekitar 10 menit kemudian saya diminta masuk kembali ke ruangan. Dan…proses ujianpun dimulai dengan presentasi proposalku terlebih dahulu. Setelahnya, dilanjutkan ke sesi tanya jawab yang cukup alot menurutku. Berurutan dari Tim Penguji Luar, Tim Pembimbing yang juga bertindak sebagai Tim Penguji, serta Ibu Ketua Tim Penguji dari Program Studi.

Dua stengah jam berlalu ketika selang waktu ujian dirasa cukup. Aku diminta keluar ruangan lagi. Menunggu di luar ruangan serasa tak berpijak di lantai manapun. Yang ada hanya deg-degan. Saat diminta kembali masuk ruangan, Ibu Ketua sempat nanya perasaanku gimana. Jawabku simple, “masih deg-degan Bu” aku senyum gamang pengen cepat tahu hasilnya.

Detik-detik yang kunanti pun tiba. Dengan seksama kudengar Ibu Ketua mengatakan ini:
“…. dinyatakan layak untuk menjadi Kandidat Doktor, artinya untuk Ujian Prelim ini, Anda dinyatakan LULUS..."
“Alhamdulillah.......” ucapku pelan. Ini hadiah Ramadhan buat mereka yang mendoakanku. Termasuk mereka yang saya telpon dan minta standby berdoa di sepanjang waktu ujian ini berlangsung. :D 

Sunday, June 29, 2014

Thanks Emilio


 
Thanks Emilio, thanks udah jadi bagian dari kisah perjalanan hati ini.

Saturday, May 03, 2014

M A M A

Cipt.: Randi



Kutak percaya
Ini semua terjadi
Mama tersayang
Pergi untuk selamanya

Hari-hariku
Kini telah berbeda
Saat dia tlah tiada
Bersamaku di dunia ini

Reff.
Mama
aku merindukanmu
Canda dan tawamu
Terbayang diingatanku

Mama
Aku merindukanmu
Hanya doa dan air mata
Yang dapat aku lakukan

Kepergianmu
Membawa banyak kenangan indah
Apapun yang kau berikan
Tak akan aku lupakan

*) Lagunya dapat dari teman, judul aslinya "AYAH". Klik link di sini untuk mendengarkan seperti apa lagunya.

Friday, April 04, 2014

MENCARI PELABUHAN TERAKHIR

Sisa-sisa hempasan karang masih tergambar jelas di sebagian buritan kapal ini.  Usaha keras menembus ombak dan badai sungguh bukan perjuangan yang mudah.  Beberapa kali harus salah jalan, terombang-ambing, hilang arah, patah kemudi hingga terdampar tiba-tiba di negeri antah berantah.

Setelah rute kesekian yang terlalui, sampailah diri di pelabuhan yang asing. Hmmm, ini bukan pelabuhan megah, karena hanya dermaga kecil yang sederhana seadanya.

Bilakah ini pelabuhan terakhir yang dituju? Bagaimana kalau ternyata masih bukan?  Entahlah...  Yang pasti diri sedikit lelah dan ingin segera rebah, kembali menyambung mimpi.  Mimpi tentang satu bintang yang paling terang, yang cahayanya berpendar penuh hanya untuk mereka yang memahami benar sejatinya pengorbanan dan cinta.  Semoga malam ini berkenan meregang waktunya sedikit lebih panjang, hingga semua tanya yang menggantung di langit sana, pun menemukan jawabnya satu-satu.  Semoga.  Tentu saja sebelum pagi membangunkan diri dengan kisah-kisah baru yang nyata di petualangan esok hari.


Tuesday, March 04, 2014

Catatan 4 Maret 2014


(Date Taken 4 Maret 2014)

Bacaan dan lafadzku, sadar belum sempurna. Tapi kesyukuran luar biasa ketika saya masih diberi waktu untuk bisa mengkhatamkannya kembali. Alhamdulilllah..


Saturday, March 01, 2014

BAWAKARAENG: Ekspedisi Yang Hampir Terlupakan

 

 

Saya ternyata harus menunggu beberapa tahun utk menyadari betapa berharganya foto ini bagi diri saya pribadi. Msh banyak puncak gunung lain yang lebih tinggi, tp utk seorang pemula, melakukan ekspedisi semacam ini bukan sesuatu yg mudah.

Keputusan untuk ikut dalam ekspedisi ini sebenarnya tak direncanakan sama sekali. Terlebih, tepat sepekan kemudian saya akan menjalani prosesi wisuda sarjana. Moment yang tentunya sudah ditunggu-tunggu orang-orang terdekat saya, terutama Bapak dan Ibu. Tapi saat ajakan teman datang, akhirnya saya “iya”kan. Takut dan khawatir jujur ada. Jangan sampai saya kenapa-kenapa. Mendaki gunung dimana tak sedikit “cerita” kegagalan mencapai puncak juga ada di sana.

Jumat siang selepas shalat, Tim Kecil kami berjumlah empat orang, start meninggalkan Makassar menuju Gowa. Tiba di Lembana, kami singgah ke rumah salah satu warga untuk istirahat dan mengecek semua perlengkapan. Hari sudah malam. Saya pikir akan menginap dulu lalu memulai pendakian esok paginya. Ternyata, sekitar pukul 20.00, saya dan Tim sudah bersiap dan langsung start malam itu juga. Hanya berbekal senter, kami menelusuri jalan setapak yang tak saya tahu seperti apa persis liukannya.

Saya tidak merekam jelas bagaimana Pos I sampai Pos V saya lewati. Hanya sesekali kami istirahat. Saya sendiri lebih sibuk bagaimana bisa melewati jalan tanpa tersandung atau terkait akar dan bagian tumbuhan lain di depanku. Oh iya, satu lagi yang menarik. Di tengah perjalanan, Tim tiba-tiba berhenti, sejenak mengajak bercengkerama dengan suasana hening, lalu ditutup dengan sesi berdoa. Di dekat kami ada makam, katanya itu salah satu pendaki yang tewas di gunung ini. Duh… begini ya solidaritas di antara mereka, sesama para pendaki.

Sesampai di Pos VI, sekitar pukul 02.00 dini hari, Tim memutuskan untuk mendirikan tenda dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Selain karena alasan medan yang sudah mulai berat menuju pos VII, dari atas juga terdengar ada badai dan terlalu beresiko jika harus melanjutkan perjalanan malam itu juga.

Tenda berdiri, menghangatkan diri di depan api unggun kecil, memperhatikan teman yang terus menerus menaburi lilin yang menyala dengan garam (katanya biar tahan lama) dst… lalu lelap dalam dekapan alam yang dingin.

Pagi pun tiba. Ada saja hal-hal yang membuatku seperti anak kecil yang baru tahu sesuatu. Salah seorang dari Tim, kakinya berdarah. Ternyata ada lintah. Saya hanya memperhatikan ketika dia mengobati bekas gigitan lintah dengan serbuk tembakau.

Setelah sarapan, Tim melanjutkan perjalanan menuju Pos VII. Perjalanan sangat saya nikmati karena hari sudah terang. Medan serta jalur dan pemandangan sekeliling tak lagi ‘sepelit’ semalam.

Perjalanan Pos VII ke Pos VIII membuat saya takjub luar biasa. Saya seperti masuk ke dalam alam mimpi. Dalam hati saya kala itu menyebut areanya Taman Firdaus. Vegetasi berupa pohon yang tingginya seragam diliputi lumut yang hijau dan lembab. Meski merangkak karena medan yang berat dan licin, tapi kekaguman saya menyaksikan semua tumbuhan indah itu masih jauh lebih besar. Subhanallah…

Tiba di Pos VIII, saya disuguhi pemandangan seperti lapangan hijau yang sangat luas. Nampak beberapa pohon yang tingginya sama, persis lukisan. Di pos ini, hawa dingin yang sangat menusuk mulai menyerang. Beberapa kali saya berusaha untuk menggerak-gerakkan badan untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap stabil. Saya coba menengadah melihat awan di atasku. Gerakannya begitu cepat, membuat mendung dan cerah bergantian hanya dalam beberapa menit yang singkat. Tak lama di pos ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos IX.

Menuju pos IX, nyali saya agak ciut. Ya Allah, saya semakin jauh meninggalkan kamarku. Hahaha. Perasaanku campur aduk. Apalagi saat mencoba menengok ke bawah. Tepat di salah satu titik, dekat ujung jurang, di bawah terlihat seperti reruntuhan. Saya benar-benar takut dan ingin menangis. Tapi, akhirnya saya berserah, berdoa dan meluruskan kembali niat, perjalanan ini semoga lancar dan tak apa-apa. Sabtu depannya, saya wisuda. Saya masih ingin melihat senyum orang-orang tercintaku saat mengenakan toga.

Perasaan campur adukku berlanjut. Untuk mencapai Pos X ternyata harus manjat dan merangkak di antara bebatuan yang cukup curam. Sungguh, nyaliku sudah hampir habis. Akhirnya dengan dibantu Tim, sampai juga di Pos X, pos terakhir. Lega banget rasanya.

Hal pertama yang saya lakukan, melihat teman mencuci wajahnya di sungai kecil yang airnya begitu dingin, saya bergegas berwudhu dan shalat zuhur di atas bebatuan.

Yang lucu, saya pikir Pos X itu sudah puncak, hehehe. Ternyata bukan. Kalau mau ke puncak, di sana ada tugu, tinggal mendaki sedikit lagi, sekitar 5 menit. O ow..

Tak sabar melihat tugu yang dimaksud, saya ditemani teman pun bergerak ke arah puncak. Di sini, ternyata harus hati-hati. Kabutnya lumayan tebal untuk ukuran siang hari. Kabut hanya mengizinkan pandangan kami hanya sejauh 1 m. Jadi tetap harus hati-hati. Kalau salah arah, bisa-bisa fatal akibatnya. Ini hampir saya alami, ketika pas ingin kembali ke Pos X, arah saya salah. Kabut menghalangi pandangan saya, tapi saya masih saja terus berjalan karena menganggap jaraknya enteng, cuma 5 menit. Alhamdulillah, beruntung teman masih sempat menjangkau pandangannnya ke saya. Ini jadi bagian pelajaran penting saya waktu itu, jangan takabur terlebih ketika berhadapan langsung dengan ketidakpastian alam.

Saya dan Tim menginap semalam di Pos X. Menikmati hangatnya api unggun di malam yang indah tapi super duper dingin. Singkat cerita, bangun pagi, sarapan kami ditemani seekor burung. Entah burung apa. Kelihatan begitu jinak dan tidak takut mendekati kami. Di tempat seperti ini, dia sendirian aja. Sepertinya sudah terbiasa dengan cuaca super dingin dan akrab dengan manusia.  Dan… hai, dia suka mie instan sisa. Hehehe.

Tiba di bagian akhir ekspedisi ini, perjalanan menuruni punggung hingga kaki gunung tak terlalu menemui rintangan, kecuali perasaan sedih layaknya sebuah perpisahan.

“Entah kapan bisa kembali, mengingat saya bukan pendaki ulung, saya hanya pemula yang bangga bisa merasakan langsung keagungan Tuhan di puncakmu, Bawakaraeng”.


Sunday, February 02, 2014

Lukisan Senja


Karena setiap senja
Selalu punya cerita

Pada setiap jiwa
Ia slalu hangat menyapa

Tanpa senja dan tanpa kita
Cakrawala senja bukanlah apa-apa

-bulansays




(Date taken: 7/26/2013 05:05 pm)



Saturday, January 11, 2014

JIKA ENGKAU

Cipt. Bulan'R


Jika engkau itu .. lautan
Ingin kuarungi tanpa temukan
Tepian

Jika engkau itu .. pegunungan
Ingin kudaki tanpa temukan
Puncak akhir perjalanan

Reff.
Tapi ternyata kau hanya sosok
Yang inginkan cukup kuberdiri di hadapanmu
Dan kau dekap


(Dengerinnya di sini ya 😉💕)

Monday, December 16, 2013

ES JAGUNG

 

Komposisinya sederhana banget. Cukup jagung manis (direbus) + plus air rebusannya + susu + es batu.

Saturday, November 09, 2013

Rumput di Langit Mendung



Rumput di langit mendung
Menyampaikan pesan cinta yang menggunung
Usah wajah alam memurung
Karena sebentar lagi hujan peluruh rindu kan turun

Saturday, November 02, 2013

Friday, October 25, 2013

Nasi Goreng Kunyit Kemangi

 
Namanya "Nasi Goreng Kunyit Kemangi". Sesuai namanya, rasa kunyit dan kemanginya begitu kuat. Agak mirip nasi goreng seafood juga karena ada udang dan cumi yang dipotong kecil-kecil plus telur yang membuatnya makin kaya protein. Terakhir, ada tambahan acar timun-wortel yang segar plus kerupuk yang kriuk-kriuk gitu.

Bubur Kacang Ijo ala Madura


Tumben-tumbenan dapat jajanan kayak gini, bubur kacang ijo campur ketan hitam ala Madura.

Wednesday, September 25, 2013

Pe-Jabat

25 September 2013... papasan sama moment ini nih.  Pak Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, selesai menghadiri salah satu acara di kampus.



Tuesday, September 10, 2013

SIDANG KOMISI PERTAMAKU



 
Mereka semua yang turut hadir jadi saksi dalam diskusi alot di Sidang Komisi Pertamaku,
 9 September 2013 kemarin.
 

Thursday, August 08, 2013

SELAMAT IDUL FITRI 1434 H

 
Semoga Allah SWT. mengampuni dosa-dosa kita,
mengangkat derajat kita,
mengijabah doa-doa kita,
serta memberi umur untuk bertemu Ramadhan-Ramadhan berikutnya.
Amiin Ya Robbal Alamiin.


Monday, August 05, 2013

TRADISI TUMBILOTOHE (Malam Pasang Lampu) GORONTALO

(Foto: indonesianculture-nasrul.blogspot.com)

(Foto: gorontalounite.com)


(Foto: nustaffsite.gunadarma.ac.id )
 
Mau melihat Gorontalo 'terpampang nyata' bermandikan jutaan cahaya ? (Minjem bahasa Syahrini...).  Kalau Anda sedang berkunjung ke daerah ini di bulan puasa, bertahanlah hingga malam ke-27 Ramadhan.  Nama tradisinya "Tumbilotohe", malam ketika hampir semua space kosong akan dipasangi lampu minyak bersumbu.  Tradisi asli Gorontalo yang berlangsung sejak abad ke -15 ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir Ramadhan. Tumbilotohe berasal dari kata tumbilo yang artinya pasang dan tohe yang artinya lampu. Karena itu, sering pula disebut Malam Pasang Lampu. Tradisi ini bahkan di tahun 2007 telah mencatatkan sejarahnya dalam Rekor MURI dengan jumlah lampu yang berhasil dinyalakan mencapai 5 juta lampu.
Biasanya untuk persiapan menjelang malam ini, beberapa hari sebelumnya para pedagang di pasar membanjiri dagangannya dengan lampu minyak berbahan dasar utama botol bekas dari jenis minuman energi (banyaknya botolemsatulima..., hehe...jgn nyebut merek ya, so lanjutin sendiri yaaa).  Tapi ada juga yang memang sengaja menyimpan lampu-lampu yang telah digunakan dari tahun sebelumnya. Dari pada beli lagi. Seingat saya dulu, harganya masih @ Rp.500,- . Sekarang, entahlah.
Yang saya saksikan, tak hanya di halaman, sepanjang jalan, ataupun lapangan, di dalam rumah juga ada yang memasang beberapa lampu. Tentu saja, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sesekali para warga saling mengingatkan untuk tetap hati-hati dan mengawasi setiap lampu yang terpasang.
Ada hal lain lagi, jangan berani pakai baju putih kalau tak ingin nantinya bakal berubah warna. Hehe, iya juga sih. Kebayang kan asap hitam mengepul di mana-mana. Tapi, overall masih amanlah. Apalagi tentunya Anda akan larut dalam euforia malam yang hanya berlangsung sekali dalam setahun itu.

Sunday, August 04, 2013

DINGIN MALAM

By: bulansays


Tampar aku sekeras mungkin
Paling tidak aku bisa beranjak
Meninggalkan senda gurau masa lalu
Yang terus saja mengusik kantukku

Peluk juga aku seerat mungkin
Pinjam sedikit hangat rembulan
Yang terpajang sepi tanpa bintang
Di luasnya dinding cakrawala malam

Tak mengapalah
Sekalipun rinduku menghilang
Lenyap disapu gelapnya alam
Yang beku lama di antara musim


Sindangbarang, 03 Agustus 2013 11:57